Home > Cross Culture

Nikmatnya Kopi De Baritie yang Harganya Rp 2,25 Juta per Kg

Pembentukan karakter rasa nanas dan wine yang pas dari De Baritie perlu waktu berbulan-bulan.
Proses pemisahan biji kopi yang bagus.  (sumber: IG De Baritie)
Proses pemisahan biji kopi yang bagus. (sumber: IG De Baritie)

JAKARTA — Selain kopi Owa, salah satu produk kopi yang juga akan bikin pecinta kopi manggut-manggut adalah De Baritie.

Kopi yang diproduksi Rumah Kopi Baritie ini menjadi salah satu produk yang memiliki cita rasa yang unik. Sekalipun kopi yang diolah adalah perpaduan Liberika dan Robusta (biji kecil dan biji besar), tapi mampu menghasilkan cita rasa yang jelas akan bikin penikmatnya ketagihan.

Untuk menghasilkan produk berkualitas, proses produksi De Baritie memang perlu proses panjang dan selektif. Tidak heran jika harga kopi ini dibandrol cukup mahal, yaitu Rp.2.250.000 per kilogram.

Biji kopi yang digunakan dari produk De Baritie ini semuanya menggunakan kopi yang berasal dari Pekalongan. Mereka mencampur (blending) kopi Liberika, Robusta biji kecil, dan robusta biji besar.

Tonton juga:

Jelaskan Siapa Abu Janda, Akun @duniadian: Sebenarnya Ingin Menyerang Pondasi Islam

Gus Wahab Jawab Abu Janda yang Terkesan Meragukan Isra Miraj Rasulullan SAW

Biji kopi yang digunakan juga merupakan biji kopi yang terbaik. Misalnya, untuk biji kopi robustanya, dari 10 kilogram kopi robusta, paling yang lolos sortir alias kualitasnya bagus hanya 1 kilogram saja.

Jadi dalam proses sortir, biasanya biji kopi akan dipilih dengan cara direndam. Biji kopi yang mengapung itu adalah biji kopi yang kualitasnya kurang bagus. Hanya biji kopi yang tenggelam yang akan diproses untuk pengupasan kulit hingga roasting.

Biji kopi Liberika dan Robusta biji besar ini kemudian diproses fermentasi untuk menghasilkan biji kopi wine. Jadi tidak heran kalau prosesnya bisa sampai hitungan bulanan. Belum lagi masih ada proses 6 bulan penyimpanan sebelum proses roasting.

Kopi De Baritie Pekalongan.  (Sumber: IG De Baritie)
Kopi De Baritie Pekalongan. (Sumber: IG De Baritie)

Biji yang diproses wine ini kemudian di-blend dengan robusta biji kecil. Tujuannya untuk mendapatkan rasa gurih yang melengkapi karakter rasa nangka dan anggur di kopi De-Baritie.

Karakter rasa wine yang dihasilkan dari fermentasi biji Liberika sangat kuat. Hal ini disebabkan lendir (yang mengandung glukosa) kopi Liberika Pekalongan sangat tebal. Bagi penikmat kopi tanpa gula, kopi dari proses fermentasi wine De Baritie, sudah terasa manis.

Pemilik Rumah Kopi De Baritie, Sutaryo Timbul, mengatakan kopi yang digunakan rumah kopinya sepenuhnya menggunakan kopi lokal asli Pekalongan. Sejumlah wilayah Pekalongan yang menghasilkan kopi di antaranya Kandangserang, Kesesi, Karanganyar, Kajen,Paninggaran, Petungkriyono, Labakbarang, maupun Talun.

Baca Juga:

Kenapa kandungan Kafein Robusta Lebih Tinggi dari Arabica?

Kedai Kopi jadi Tempatnya Para Pemberontak

3 Kopi Legendaris di Bogor

Sesuai dengan kontur tanahnya, wilayah ini memang rata-rata penghasil kopi Liberika dan Robusta. Tentu saja, setiap wilayag tersebut, karakter rasa yang berbeda-beda.

Rumah Kopi De Baritie sendiri sudah berdiri sejak 2016. Namun merek kopi De Baritie baru muncul pada 2018. Produknya di antaranya kopi bubuk premium, roastbeen, wine, De Baritie signature, dan yang akan segera dirilis adalah kopi gula aren.

Khusus untuk De Baritie yang harganya Rp 2.250.000 per kilogram, produknya dalam bentuk kopi biji. “Kecuali ada permintaan langsung digilingkan,” kata Timbul Timbul yang sudah memiliki sertifikat mahir roaster dari Asosiasi Eskportir Import Kopi Indonesia (AEKI), Sertifikat Barista dari Tangerang dan Sertifikat Uji Cita Rasa dari Puslit Koka Jember.

De Baritie tidak hanya enak dengan model seduh V60. Kopi ini juga cocok diseduh dengan metode cold brew, french press, maupun tubruk. "Apalagi untuk kopi kekinian, yang berbasis espresso,” kata Timbul.

Sekalipun harga De Baritie mencapai Rp. 2.250.000 per kilogram, tapi permintaannya cukup tinggi. Karena memang rasa uniknya sangat digemari pecinta kopi. Permintaannya tidak hanya di lokal Pekalongan, tapi juga wilayah Bekasi, Depok, Semarang, maupun Surabaya. “Kita memang belum bisa produksi banyak,” ungkap Timbul.

× Image