Home > Sejarah

Saat Kopi Disebut Minuman Orang Kafir

Penyebutan minuman orang kafir karena kepentingan politik dan ekonomi.

JAKARTA — Siapa yang saat ini tidak tahu kopi?. Kalau sampai tidak tahu kopi, mungkin sudah kelamaan tinggal di gua. Memang tidak semua orang suka menikmati segelas kopi, tapi kata kopi sudah pasti akrab di daerah manapun.

Kalau kita bertamu, akan sering kita denger tuan rumah akan menawarkan, Mau kopi apa teh?. Atau kalau lewat dan bertemu sahabat, akan sering ada ajakan,”Mampir ngopi”.

Kopi memang sudah menjadi minuman favorit sejak berabad-abad. Termasuk juga bagi kalangan umat Islam. Bersandar pada sejumlah sumber Arab, seorang ilmuwan bernama RS Hattox dalam bukunya, Coffee and Coffeehouses: The Origins of a Social Beverage in the Medieval Near East, mengungkapkan, Muslim Yaman membawa kopi ke tanah kelahiran mereka dari Etiopia pada sekitar 1400 Masehi.

Kopi juga menjadi teman bagi kalangan sufi, agar bisa terjaga saat memperdalam ilmu agama, ataupun menjalankan ibadah-ibadah malam.

Tapi tahukah Anda kalau dulu kopi sempat disebut sebagai minuman orang kafir?.

Mengutip buku ‘Ekspedisi Kopi, Republika.co.id’, sebelum kopi dikenal di Eropa, Bir merupakan minuman masyarakat di sana. Kemudian pada abad ke-17, pedagang-pedagang Belanda dan Venezia mulai memperkenalkan dan memperdagangkan kopi kepada masyarakat Eropa.

Kopi dengan cepat digemari oleh masyarakat di Eropa. Pada tahun 1652, kedai kopi pertama di buka di Inggris, dan meningkat dengan cepat hingga pada tahun 1700 sudah ada lebih dari 2000 kedai kopi di London. Kedai-kedai kopi di Inggris biasa dikenal dengan sebutan “Penny University”, sebab hanya dengan membeli kopi seharga beberapa penny, orang-orang bisa nyaman duduk, bersosialisasi dan terutama berdiskusi dengan orang-orang pintar tentang masalah-masalah aktual di negara itu.

Namun, perkembangan kopi di Eropa juga mendapat halangan. Raja Charles II mengeluarkan aturan untuk menutup kedai-kedai kopi pada tahun 1675. Selain karena adanya petisi dari kaum perempuan, Raja juga gerah dengan perbincangan dan diskusi di kedai kopi yang kerap mengkritik dan mengolok-olok dirinya. Namun, aturan tersebut mendapat reaksi keras dari masyarakat hingga Raja Charles akhirnya membatalkan keputusannya.

Baca juga: Kopi Puntang Punya Rasa Seperti Kehidupan

Pada tahun 1777, kopi juga telah menjadi minuman popular di wilayah Prussia. Seperti di Inggris, penguasa di Prussia kala itu, Frederick the Great juga gerah dengan cepatnya kopi menjadi minuman yang disukai masyarakat.

Bahkan, Frederick the Great sempat mengeluarkan pernyataan bahwa Bir adalah minuman kehormatan bagi bangsanya, dibanding kopi yang berasal dari jazirah Arab. Pernyataan itu muncul karena pendapatan negara dari penjualan bir menurun drastis sejak adanya kopi.

Puncaknya pada tahun 1781, Frederick II mendeklarasikan ‘perang terhadap kopi’. Ia mengeluarkan aturan yang melarang warga Prussia me-rosting kopi. Raja Prussia itu membentuk satuan polisi khusus yang memata-matai dan menangkap warga yang masih nekat memproses biji kopi.

Aturan tegas ini terbukti tidak bisa mencegah kecintaan masyarakat Prussia terhadap kopi. Justru akibat aturan tersebut, angka penyelundupan kopi di Prussia semakin meningkat. Hingga akhir hayatnya Frederick II tidak pernah bisa menang dalam perang melawan kopi. Setelah dirinya meninggal pada 1786, pembatasan dan larangan terkait kopi akhirnya dicabut.

Begitulah sejarah perang melawan kopi di eropa. Penyebutan kopi sebagai minuman orang kafir, sebenarnya taklepas dari persoalan kepentingan politik dan ekonomi. Jadi bukan pada masalah haram atau halalnya konsumsi kopi.

Mengutif alif.id dikisahkan dari Sayyid Nahlawi Ibnu Sayyid Khalil bahwa ia mendengar cerita yang dituturkan oleh gurunya yang bernama Syaikh Salim Samarah tentang seorang sufi dari tanah Maghribi.

Dikisahkan bahwa suatu waktu sang sufi berjumpa dengan Nabi dalam keadaan sadar (dalam literatur tasawuf, para sufi bukan saja bisa berjumpa Nabi dalam keadaan tidur/mimpi, melainkan dalam keadaan terjaga sekalipun), ia berkata kepada Nabi:

“Wahai Rasulullah saw, saya suka meminum kopi.” Lalu Nabi memerintakan sang sufi untuk membaca doa “khusus” saat menyeruput kopi yang biasa diminumnya, doa tersebut adalah sebagai berikut:

اللهم اجعلها نورا لبصري وعافية لبدني وشفاء لقلبي ودواء لكل داء يا قوي يا متين ثم يتلو البسملة.

Artinya:

Ya Allah, jadikanlah kopi yang saya teguk sebagai cahaya bagi penglihatanku, kesehatan bagi badanku, penawar hatiku, obat bagi segala penyakit, duhai dzat yang Maha Kuat dan Maha Teguh kemudian membaca bismillahirrahmanirrahim

Nabi kemudian melanjutkan sabdanya:

Malaikat akan terus memintakan ampunan untukmu selama rasa kopi masih menempel di mulutmu.

Di akhir penuturan kisah ini, Sayyid Nahlawi menyebutkan bahwa Syaikh Salim Sammarah wafat pada tahun 1330 H dimakamkan di Turbah Bab ash-Shagir

× Image